Kebudayaan Suku Gorontalo
Umumnya, orang Gorontalo hidup bertani. Sebagian kecil bergerak di bidang
perdagangan eceran. Mereka terbilang ulet dalam lapangan ini. Di bidang
kerajinan, mereka memproduksi rotan, kursi batang kelapa, anyaman tikar dan
sebagainya. Ada pula daerah yang menjadi obyek pariwisata, seperti Danau
Limboto dan beberapa benteng dari jaman penjajahan. Sebagai sarana penunjang
pariwisata, telah dibangun sejumlah hotel dan motel di sepanjang jalan raya.
penarikan garis keturunan dilakukan dari pihak ayah dan ibu (bilateral). Dalam
keluarga inti (ngala'a), anak memperlihatkan hubungan sungkan terhadap ayahnya.
Anak tidak bisa bergurau dengan ayahnya, melainkan harus terjadi taat dan
sopan. Sifat hubungan semacam ini terjadi pula terhadap saudara laki-laki ayah
dan ibu. Sedangkan seseorang tampak lebih bebas berhubungan denga nenek atau kakeknya.
Hubungan yang sifatnya bebas ini terjadi juga dengan saudara sepupu.
Sebaliknya, dengan para ipar terjadi hubungan sungkan.
Sistem Religi Atau Keagamaan Suku Gorontalo
Orang Gorontalo hampir seluruhnya beragama Islam, yang masuk pada abad
ke-16. Namun, mereka masih mempercayai makhluk-makhluk halus (motolohuta) dan
kekuatan gaib (hulobalangi). Sebagian beranggapan makam para orang sakti dahulu
adalah keramat. Upacara tradisional terkait dengan kepercayaan akan adanya makhluk-makhluk
yang mendiami alam raya ini, meliputi upacara untuk kesuburan tanah, menolak
wabah penyakit, gerhana bulan, membuka hutan dan minta hujan. Alat-alat yang
dipakai untuk perlengkapan upacara harus lengkap. Tiap alat tersebut
menunjukkan lambang religio magis. Bau asap kemenyan yang dibakar yang
merupakan makanan setan, dianggap memiliki kekuatan menolak penyakit atau
bencana sehingga melambangkan keamanan hidup masyarakat. Gendang hanya bisa
dibunyikan dalam upacara memanggil stan. Jika di luar itu, mereka menganggap
para setan akan berdatangan memberikan bencana dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu, kain merah yang menjadi ikat kepala para pelaksana upacara mewakili
kawan setan. Karena itu, kalau dipakai sembarang orang memiliki daya magis yang
dapat membawa penyakit atau bencana yang akan menimpa penduduk. Itulah
sebabnya, jarang ditemukan pakaian warna merah dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam upacara tradisional orang Gorontalo.
Sistem Organisasi Masyarakat
Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu
dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare
dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama
Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan
penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan
masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol
Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi
Tenggara.Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya
yang strategis menghadap Teluk Tomini
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa
Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut
Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan
Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang
Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan
dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara
dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan
serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah
sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah
Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah
sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk
kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo.
Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut
"Pohala'a". Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
·
Pohala'a Gorontalo
·
Pohala'a Limboto
·
Pohala'a Suwawa
·
Pohala'a Boalemo
·
Pohala'a Atinggola
Pohala'a Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol di antara kelima
pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Sistem Pengetahuan dan Teknologi
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta
memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara
manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa
keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup
dari pertanianpaling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional
(disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik).
Sistem Sosial
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat,
baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum , yang berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara .
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi
sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai
sendiri.
1.
Pakaian Adat
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah
sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita),
penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah
khas Gorontalo disebut Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini
umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan
hijau.
2.
Pendidikan
Pendidikan sangat diperlukan oleh setiap penduduk, bahkan
setiap penduduk berhak untuk dapat mengenyam pendidikan khususnya penduduk usia
sekolah (7-24 tahun). Keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh
tersedianya sarana dan prasarana pendidikan seperti sekolah dan tenaga
pendidikan (Guru) yang memadai.
Berdasarkan data tahun 2007 yang diperoleh, jumlah Sekolah Dasar ada 910 Sekolah, dengan total 145.234 murid dan 7.140 Guru. Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) ada 284 Sekolah, 44.648 murid dan 4.169 guru. Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ada 91 sekolah, 28.849 murid dan 1.662 guru.
Berdasarkan data tahun 2007 yang diperoleh, jumlah Sekolah Dasar ada 910 Sekolah, dengan total 145.234 murid dan 7.140 Guru. Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) ada 284 Sekolah, 44.648 murid dan 4.169 guru. Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ada 91 sekolah, 28.849 murid dan 1.662 guru.
3.
Kesehatan
Dilihat dari sarana dan prasarana kesehatan, di Provinsi Gorontalo
terdapat 7 Rumah Sakit yang terdiri dari 6 Rumah Sakit pemerintah dan 1 Rumah
Sakit Swasta.
Sarana dan Prasarana kesehatan di tingkat kecamatan diwakili dengan adanya keberadaan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Pada tahun 2007 tercatat terdapat 57 Puskesmas yang dibantu dengan 252 Puskesmas Pembantu dan 62 Puskesmas Keliling.
Sarana dan Prasarana kesehatan di tingkat kecamatan diwakili dengan adanya keberadaan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Pada tahun 2007 tercatat terdapat 57 Puskesmas yang dibantu dengan 252 Puskesmas Pembantu dan 62 Puskesmas Keliling.
4. Agama
Berdasarkan
data 2007 yang ada 97,5% penduduk di Provinsi Gorontalo memeluk agama Islam,
sedangkan pemeluk agama Protestan ada sebanyak 1,3% dan selebihnya ± 1% memeluk
agama Katolik, Hindu dan Budha
5. Hukum
Berdasarkan registrasi pada tahun 2007 terdapat 520 perkara
pidana. Hal ini menunjukan penurunan sebesar 15,03% dibandingkan perkara pidana
pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 terdapat sebanyak 376 narapidana, 94,31%
di antaranya adalah laki-laki dan jenis kejahatan yang dilakukan paling banyak
adalah kesusilaan.
Nuansa
Warna bagi Masyarakat Gorontalo
Dalam
adat-istiadat Gorontalo, setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu.
Karena itu, dalam upacara pernikahan masyarakat Gorontalo hanya menggunakan
empat warna utama, yaitu merah, hijau, kuning emas, dan ungu. Warna merah dalam
masyarakat adat Gorontalo bermakna ‘ keberanian dan tanggung jawab;
hijau bermakna ‘kesuburan, kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan’; kuning
emas bermakna ‘kemuliaan, kesetian, kebesaran, dan kejujuran’; sedangkan
warna ungu bermakna ‘keanggunanan dan kewibawaan’.
Pada
umumnya masyarakat adat Gorontalo enggan mengenakan pakaian warna coklat karena
coklat melambangkan ‘tanah’. Karena itu, bila mereka ingin mengenakan pakaian
warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna ‘keteguhan dan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’. Warna putih bermakna ‘kesucian atau
kedukaan’.
Karena itu, mayarakat
Gorontalo lebih suka mengenakan warna putih bila pergi ke tempat perkabungan
atau kedukaan atau ke tempat ibadah (masjid).
Biru muda sering dikenakan pada saat peringatan 40 hari duka, sedangkan biru tua dikenakan pada peringatan 100 hari duka.
Biru muda sering dikenakan pada saat peringatan 40 hari duka, sedangkan biru tua dikenakan pada peringatan 100 hari duka.
Dengan
dasar pandangan terhadap warna tersebut, maka pada hiasan untuk upacara
pernikahan masyarakat Gorontalo hanya menggunakan empat warna utama di atas
(merah, hijau, kuning emas, dan ungu). Sebagaimana disebutkan di atas,
masyarakat Gorontalo memiliki pakaian khas tersendiri untuk berbagai upacara
adat baik perkawinan, pengkhitanan, pembaitan, dan penyambutan tamu. Pakaian
adat pengantin disebut Paluawala atau Bili’u. Pada waktu akad nikah
pengantin mengenakan pakaian adapt yang disebut Wolimomo dan Payungga. Saat itu
pengantin pria berada di kamar adat yang disebut Huwali Lo Humbiya. Paluwala
artinya polunete unggala’a to delemo pohla’a, yakni suatu ikatan keluarga
pada keluarga besar: Duluwo lou limo lo pohala’a Gorontalo, Limboto, Suwawa,
Bolango, dan Atinggola.
Sedangkan
Bili’u berasal dari kata bilowato artinya ‘yang diangkat’, yakni sang gadis
diangkat dengan memperlihatkan ayuwa (sikap) dan popoli
(tingkah laku), termasuk sifat dan pembawaanya di lingkungan keluarga. Pakaian
ini dipakai pada waktu pengantin duduk bersanding di pelaminan yang disebuat
pu’ade atau tempat pelaminan. Kemudian pengantin mengenakan pakaian Madipungu
dan Payunga Tilambi'o, yaitu pakaian pengantin wanita tanpa Bayalo Bo”Ute
atau hiasan kepala, cukup pakai konde dengan hiasan sunthi dan pria memakai Payunga
Tilambi’o.
Yang
terakhir sang pengantin mengenakan Pasangan dan Payunga Tilambi’o, yaitu
pakaian pengantin wanita dengan tiga perempat tangannya dipakai acara resepsi,
di mana pengantin wanita bebas bersuka ria dengan sahabat–sahabat sebaya
sebagai penutup acara masa remajanya.
Dalam
adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H dilaksanakan acara “Dutu“,
di mana kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan
buah–buahan, seperti buah jeruk, nangka, nenas, dan tebu. Setiap buah
yang dibawa juga punya makna tersendiri, misalnya buah jeruk bermakna bahwa
‘pengantin harus merendahkan diri’, duri jeruk bermakna bahwa ‘pengantin harus
menjaga diri’, dan rasanya yang manis bermakna bahwa ‘pengantin harus menjaga
tata kerama atau bersifat manis supaya disukai orang. Nenas, durinya juga
bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri, dan begitu pula rasanya yang
manis. Nangka dalam bahasa Gorontalo Langge lo olooto, yang berbau harum
dan berwarna kuning emas mempunyai arti bahwa pengantin tersebut
harus memiliki sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning
bermakna bahwa pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam
pendirian.
SUMBER
:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar